Rabu, 22 November 2017
  • (0473) 21001
  • info@luwuutarakab.go.id

Meluruskan Penulisan HUT

Meluruskan Penulisan HUT Meluruskan Penulisan HUT

“Setiap tulisan merupakan dunia tersendiri yang terapung antara dunia kenyataan dan impian”. Begitu Pramoedya Ananta Toer mendeskripsikan makna tulisan versi dia. Kemudian dia melanjutkan, “Menulislah sedari SD. Apapun yang ditulis sedari SD pasti jadi”. Kalau saya ingin menyambung ungkapan tadi, maka saya pun akan mengatakan seperti ini, “Tulisan saya sewaktu SD adalah ini Budi, ini ibu Budi dan ini ayah Budi”. Korelasinya adalah bahwa menulis itu ada aturannya. Semua tata bahasa harus berpedoman pada Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) sebagai payung aturan dalam menulis. Kalau sudah begitu, maka konstruksi tulisan akan mengandung unsur budi pekerti, mendidik dan dapat menginspirasi pembaca. Nah, kali ini si Penulis lebih spesifik mengupas tentang cara penulisan HUT.

Dalam berbagai perayaan HUT, baik yang sifatnya personal maupun kelembagaan, seringkali kita menjumpai penulisan HUT yang salah kaprah dan terkesan ambigu. Bagi masyarakat awam, penulisan HUT mungkin tidak terlalu penting. Salah pun tak mengapa karena bukan pelanggaran hukum. Nah, bagaimana dengan orang yang kemampuannya di atas rata-rata dari kita sebagai orang yang kadang tidak peduli dengan penulisan yang “menyimpang” dari EYD? Ambiguitas terkadang menyimpan misteri dan seolah tak pernah ingin diluruskan. Ambiguitas dalam menulis karena kemalasan kita membaca dan membuka kamus. Padahal dalam tata bahasa ada frame yang semestinya tidak boleh kita labrak.  

Banyak contoh penulisan yang jauh dari kesempurnaan dan tidak mengikuti kaidah dalam EYD. Kenapa kita harus ikut “fatwa” EYD? Karena EYD digunakan untuk menyempurnakan karya tulis.  Misalnya bagaimana menempatkan awalan dan akhiran secara tepat dan benar. Bagaimana memisahkan dan menyambungkan kata depan. Bagaimana menulis judul yang baik dengan menggabungkan huruf kapital dan kecil. Bagaimana membedakan antara singkatan dan akronim. Serta yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana EYD digunakan pada penulisan angka.  
Michel Foucalt, seorang filsuf ber-mahzab Post-strukturalis, pernah mengatakan bahwa bahasa merangkum pengetahuan tentang dunia, maka tidaklah keliru kalau saya juga mengatakan bahwa dengan menulis, dunia dalam genggaman kita. Pertanyaannya, tulisan seperti apa yang layak untuk kita bagi ke publik jika dalam tulisan itu tata bahasanya berantakan?

Berbicara tentang penulisan HUT, sudah pasti kita akan berbicara tentang angka-angka. Sepintas kadar persoalan ini cuma seujung kuku. Tak ada yang peduli, sehingga pembiaran demi pembiaran jamak terjadi dalam penulisannya. Kalau mata sudah terhipnotis dengan tulisan yang huruf dan angkanya dipercantik dengan “dandanan” ala photoshop dan coreldraw, maka yang keliru pun akan menjadi benar. Seorang Kompasianers bernama Ninoy Karundeng mengatakan, kesalahan kecil yang dianggap tidak penting menunjukkan kepribadian seseorang, termasuk dalam penulisan.  

Sebentar lagi Luwu Utara merayakan hari jadinya yang ke-18. Tentu dalam merayakan HUT, berbagai tulisan ucapan selamat bertebaran di mana-mana, baik lewat spanduk, baligho, ex-banner, poster, termasuk tentunya ucapan selamat yang wira wiri di media sosial seperti facebook atau WA. Saatnyalah orang per orang, dan berbagai komunitas lainnya mengaktualisasikan dirinya melalui media tersebut. Pertanyaannya, sudah tepatkah penulisan HUT yang kita bagikan?

Ambil contoh tulisan berikut ini: HUT Luwu Utara yang ke-18. Padahal ini keliru. Tulisan tersebut bisa berarti bahwa ada Luwu Utara yang kesatu, kedua sampai ke-18. Padahal Luwu Utara cuma satu. Tulisan yang tepat adalah HUT ke-18 Kabupaten Luwu Utara. Contoh lain adalah ketika kita memakai angka romawi. Tulisan berikut ini juga jelas keliru: HUT Ke-XVIII Luwu Utara. Padahal sejatinya penggunaan angka romawi sudah bermakna “ke-”. Contoh: I, II dan III dibaca kesatu, kedua dan ketiga. Jadi, yang tepat adalah HUT XVII Kabupaten Luwu Utara.   

Ada lagi yang menggunakan bahasa sansekerta, yakni memakai kata “Dirgahayu”. Namun lucunya terkesan ambigu juga. Contoh: Dirgahayu HUT XVIII Luwu Utara. Dirgahayu artinya panjang umur. Jika kita padupadankan dengan kalimat tadi, maka artinya seperti ini: Panjang Umur HUT ke-18 Luwu Utara. Contoh yang benar adalah Dirgahayu Kabupaten Luwu Utara. Tulisan ini tidak bermaksud menggurui, hanya sekadar meluruskan apa yang saya ketahui saat sekolah dulu. Ungkapan bahwa bahasa itu dinamis, serupa bayi yang terus bergiat untuk tumbuh dan berkembang, maka kita pun seperti bahasa yang selalu bergerak dinamis dan terus tumbuh dan berkembang. (LH)